MENJALIN
TALI SILATURAHMI DENGAN ORANG TUA SISWA
Berdasarkan
amanat Kepala Dinas Pendidkan dan Kebudayaan Kabupaten Subang yang disampaikan oleh Dr. Aep
Saepudin M.Pd. selaku Kabid Pembinaan SMP dalam VCon Kebijakan Disdikbud
Kabupaten Subang dalam rangka Hardiknas pada tanggal 2 Mei 2020 lalu, bahwa
kegiatan pembelajaran harus mengikuti aturan Mendikbud melalui Surat Edaran
No.4 tahun 2020. Kegiatan pembelajaran selama masa pandemi Covid-19 ini peserta didik belajar di rumah dengan metode
daring, Hal ini untuk menyelamatkan jiwa siswa dari Pandemi Covid-19.
Selama
kurang lebih tiga bulan ini, sekolah sudah melaksanakan Pendidikan Jarak Jauh
(PJJ), yakni pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan
pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi informasi
dan komunikasi, dan media lain. Pelaksanaaan PJJ dengan metode daring
mengharuskan pendidik lebih inovatif, namun anak tidak merasa terbebani.
Media
PJJ yang digunakan pendidik dan peserta
didik di antaranya adalah WhatsApp Group,
Facebook, dan Google Classroom. Tentunya PJJ ini ada
kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya adalah peserta didik menjadi lebih
aktif dan lebih mandiri dalam proses belajar mengajar. Interaksi antara peserta
didik dan pendidik dapat dilakukan sesuai dengan ketersediaan waktu mereka.
Peserta didik dapat mengakses atau mereview bahan pelajaran setiap saat.
Walaupun demikian, PJJ ini tidak terlepas dari kekurangan, antara lain
kurangnya interaksi antara pendidik dan peserta didik, pendidikan karakter
tidak dapat diterapkan secara maksimal, peserta didik tidak mempunyai motivasi
belajar yang tinggi, belum lagi kendala teknis yakni tidak semua peserta didik
mempunyai gadget, gangguan jaringan
atau susah sinyal, dan kuota yang terbatas.
Terlepas dari kekurangan dan kelebihan PJJ,
kegiatan belajar mengajar sudah selesai dilaksanakan.dan pendidik juga sudah selesai
mengolah nilai, cetak rapor dan rapor pun sudah siap untuk dibagikan kepada
peserta didik.
Pada
umumnya untuk meminimalisir penyebaran covid-19, maka pihak sekolah menggunakan
beberapa cara, diantaranya adalah sekolah mengundang orang tua siswa dengan
cara dibagi menjadi beberapa sesi agar tidak terjadi penumpukan massa di
sekolah, namun tetap memperhatikan protokol kesehatan.
Berbeda
dengan sekolah lain, untuk SMPN 1 Pabuaran, berdasarkan keputusan rapat dinas
kepala sekolah dan dewan guru pada tanggal 2 Juni 2020 memutuskan untuk
membagikan rapor langsung ke rumah siswa. ”Pembagian rapor kelas 7 dan 8 di SMPN 1 Pabuaran yaitu dengan
cara walikelas langsung ke rumah siswanya, sama halnya dengan pembagian surat
kelulusan dan rapor kelas 9 pada tanggal 5 Juni 2020 lalu. Hal ini dilakukan
untuk menghindari adanya kerumunan massa yang banyak di sekolah, sekaligus
sebagai ajang silaturahmi pihak sekolah kepada orang tua siswa. Namun tetap
para walikelas juga memperhatikan protokol kesehatan, yaitu dengan menggunakan
masker, hand sanitizer, dan jaga jarak.” Papar Darsa, S.Pd. selaku
Kepala SMPN 1 Pabuaran.
Yohani
Yatriani, S.Pd. salah satu walikelas yang sudah membagikan rapor langsung ke
rumah siswa pada Hari Rabu, 17 Juni 2020, mengatakan bahwa banyak pengalaman berharga
yang bisa diambil dari pembagian rapor
secara langsung. “Hari ini Saya bisa keliling Pabuaran, sambil refresing
melihat pemandangan. Arah yang saya ambil pertama ke daerah Cilekor, kemudian
ke Sadang, Ciomas, terus baru ke tempat yang dekat sekitaran sekolah. Dan
ternyata kondisi peserta didik itu berbeda-beda latar belakangnya, bahkan ada
yang memprihatinkan secara ekonomi.” Tutur Yohani.
Selain
itu, Rien Elen, S.Pd. yang juga walikelas 7C mengatakan bahwa dengan membagikan
rapor langsung ke rumah siswa, selain bisa bersilaturahmi dengan orang tua
siswa, pendidik jadi lebih dekat dengan peserta didik dan tahu latar belakang
keluarganya. Lebih paham karakter siswa karena bisa sharing dengan orang tuanya langsung sehingga lebih paham kelebihan
dan kekurangan anak dalam belajar.
Dengan
demikian, pembagian rapor di massa pandemi Covid-19 ini, menyisakan kisah yang
begitu mendalam dan memberikan pengalaman berharga yang tak terlupakan di hati
para walikelas 7 dan 8 SMPN 1 Pabuaran. Hal yang sangat jauh berbeda dengan pembagian rapor
yang orang tuanya diundang ke sekolah, karena hanya bertemu sebentar tanpa kita tahu latar belakang
keluarganya secara mendalam. Dengan terjun langsung ke rumah siswa, pendidik
jadi lebih paham karakter anak, kondisi ekonomi, dan kondisi keluarga peserta
didiknya, dan ini adalah modal pendidik untuk dapat lebih memahami kondisi
peserta didik untuk peningkatan proses pembelajaran di masa yang akan datang.