Pengikut

Kamis, 04 November 2021

SECERCAH HARAP

 

SECERCAH HARAP

Yusi Sri Mulyani

Kegiatan literasi di sekolahku di masa pandemi covid-19 ini hampir mati suri. Kegiatan pembiasaan membaca 15 menit yang biasa kami lakukan setiap pagi  tak berjalan seperti biasa. Tak ada juga kegiatan Readathon yang biasa kami lakukan setiap awal bulan. Pohon geulis atau pohon literasi yang terpajang di tiap kelas pun tak lagi rimbun oleh daun yang biasa diisi oleh daun dari siswa yang sudah menuntaskan bacaannya. Pojok baca di setiap sudut kelas pun kini buku-bukunya tak tersentuh bahkan kotor dan berdebu. Yah..Jangankan untuk memantau kegiatan literasi, untuk kegiatan belajar pun  saat ini terasa sulit untuk dilakukan mengingat segala keterbatasan yang ada.

Sampai suatu hari ada sebuah tantangan literasi datang dari  salah satu komunitas  literasi yang bekerja sama dengan Dinas Kabupaten. Tentu saja saya sebagai pembina literasi menyambut baik tantangan ini, karena terus terang saja saya sangat ingin anak-anak yang saya bina di sekolah dapat mengikuti tantangan itu, dengan tujuan untuk menghidupkan kembali ruh literasi agar tak lagi mati suri. Namun, bagaimana caranya?

“Haloo...ini Ayu?” aku mencoba menghubungi salah satu siswa kelas 8 melalui sambungan telepon selular.

“Iya, Ini Ayu. Ini dengan siapa ya?” tanya Ayu balik bertanya.

“Ini Bu Susi. Ayu bisa datang ke sekolah hari ini pukul 9? Ada yang mau ibu sampaikan pada Ayu.” Jawabku.

“Iya, bisa Bu.” Jawab Ayu singkat.

Setelah aku menghubungi Ayu di telepon, tak berapa lama Ayu datang ke sekolah menemuiku.

Aku segera menceritakan tentang tantangan literasi yang hendak diikuti, dan aku bilang bahwa aku bermaksud untuk mencari  5 orang yang siap mengikuti tantangan ini. Aku menanyakan apakah Ayu bersedia mengikuti tantangan literasi itu atau tidak. Awalnya dia berpikir lama dan tidak segera menjawab pertanyaanku.

“Bagaimana Yu? Ayu kan senang membaca, pasti Ayu bisa ikut tantangan ini.” Bujukku pada Ayu.

“Ayu memang suka membaca Bu, tapi kalau menulis apa Ayu bisa?” Ayu seolah tidak yakin dengan kemampuannya.

“Ibu yakin Ayu pasti bisa, nanti kalau lolos Ayu akan mendapatkan medali dan piagam penghargaan yang bisa Ayu gunakan untuk melanjutkan sekolah lewat jalur prestasi.” Aku mencoba meyakinkan.

Setelah aku membujuknya akhirnya Ayu pun bersedia untuk mengikuti tantangan itu. Aku pun langsung menanyakan kepada Ayu kira-kira siapa lagi yang bisa diajak gabung untuk mengikuti tantangan ini. Ayu kemudian merekomendasikan beberapa teman-temannnya  yang mungkin bersedia untuk gabung.

Atas rekomendasi Ayu, aku pun segera menghubungi nomor telepon yang sudah diberikan Ayu. Dan ternyata anak-anak yang aku hubungi kebanyakan menolak ajakanku. Ada saja alasan yang mereka utarakan. Ada yang bilang ingin konsentrasi mengerjakan  tugas sekolah, ada yang sibuk jagain adiknya, ada yang bilang  tidak punya bakat menulis, dan ada juga yang harus bantuin orang tua jualan di pasar sehingga tidak sanggup mengikuti tantangan. Ternyata mengajak anak-anak untuk bergabung mengikuti kegiatan ini adalah pekerjaan yang tidak mudah  dan sangat sulit. Berbeda mungkin ketika aku bisa bertatap muka dengan mereka, di era pandemi ini aku sangat kesulitan untuk bisa bertatap muka, kalau hanya lewat WA atau telepon sepertinya sulit sekali meyakinkan mereka.

Ayu yang melihat aku selalu menelan kekecewaan selama tadi aku menghubungi teman-temannya, kemudian dia pun memberikan secercah harap.

“Bu, Ayu akan coba hubungi Lia ya, barangkali dia bersedia.” Ayu pun berusaha membantuku.

“Iya, Yu, boleh banget...semoga Lia mau ikut gabung ya...” harapku.

Ayu pun menghubungi Lia dan hasilnya Ayu ternyata sanggup meyakinkan Lia untuk bisa bergabung mengikuti tantangan ini.

Aku memang kesulitan menghubungi kelas 8 karena selama pandemi ini aku belum pernah mengajar tatap muka secara langsung, kami hanya dipertemukan dalam tatap muka virtual saja. Sehingga kedekatan batin antara aku dengan siswaku terasa kurang. Sehingga aku tidak dapat meyakinkan mereka, yah...ini sebenarnya hanya menurut perkiraan aku saja sih yang merasa kesulitan mencari peserta tantangan. Siswa kelas 8 yang sudah aku hubungi  kebanyakan menolak ajakanku. Tapi walaupun begitu aku bersyukur sudah ada dua orang yang bersedia gabung, yakni Ayu dan Lia.  Akhirnya aku pun memutuskan  akan mengikutsertakan kelas 9 saja untuk memenuhi jumlah peserta agar lengkap 5 orang. Dan alhamdulillah akhirnya aku bisa meyakinkan siswa kelas 9 untuk mengikuti tantangan ini. Jadi, yang mengikuti tantangan ini 2 orang dari kelas 8 dan 3 orang dari kelas 9.

Langkah pertama yang aku lakukan adalah membuat WA grup untuk para siswa yang mengikuti tantangan. Aku menjelaskan ketentuan dalam tantangan literasi ini,  bahwa mereka harus sanggup menulis satu hari satu halaman selama 20 hari bisa berupa cerpen atau bisa juga puisi.

“Siapa yang senang menulis cerpen di grup ini? Tanyaku dalam percakapan di WA grup.

“Nisa, suka cerpen Bu. Biar Nisa coba menulis cerpen saja.” Jawab Nisa.

“Selain Nisa, ada yang lainkah yang sama ingin mengikuti tantangan menulis cerpen?” tanyaku lagi. Selang berapa lama, namun tak ada jawaban atas pertanyaanku.

“Kalau yang mau ikut tantangan puisi siapa?” aku mencoba memberikan pilihan.

Setelah aku tanya di WA grup ternyata tak juga ada yang menjawab pertanyaanku, padahal aku tahu kalau pesanku itu sudah dibaca oleh mereka.

Aku pun mulai bertanya langsung lewat jalur pribadi, dan ternyata setelah aku tanyakan kenapa mereka tidak menjawab pertanyaanku di grup, kebanyakan dari mereka merasa malu untuk jawab di grup. Bahkan ternyata untuk meyakinkan mereka memilih tantangan apa yang  siap untuk mereka ikuti tidak semudah yang dibayangkan. Ada juga yang merasa tidak percaya diri bahwa dia sanggup melewati tantangan selama 20 hari  untuk terus menerus menulis. Bahkan ada juga yang hendak mengundurkan diri. Ya Tuhan, tantangannya saya belum dimulai sudah mau mengundurkan diri...mungkin ini adalah tantangan juga buat aku agar aku bisa diberikan kesabaran lebih dalam membimbing anak-anakku ini.

Setelah berusaha meyakinkan dengan berbagai alasan dan bujukan, akhirnya mereka pun mau menentukan pilihannya. Nisa yang memang senang membaca novel, memutuskan mengikuti tantangan menulis cerpen, sedangkan empat orang lainnya yaitu Ayu, Lia, Ita, dan Putra memutuskan ikut tantangan menulis Puisi.

Sejak hari itu, dari mulai tanggal 1April 2021, aku mulai mengumpulkan hasil tulisan mereka setiap hari. Hampir setiap hari aku mengingatkan mereka untuk menulis, agar jangan sampai mereka lupa atau tidak menulis, besar harapan saya agar mereka mampu mengalahkan rasa tidak percaya diri mereka sehingga mampu menjadi pribadi yang percaya diri dan sanggup melalui tantangan ini dengan baik.

“Ayo, yang belum setor tulisannya hari ini ibu tunggu ya, ibu akan segera mengunggah tulisan kalian ke web-nya. Sekarang sudah hari ke-18, perjalanan kita menuju kesuksesan ada di depan mata, tetap semangat ya...” kalimat itulah yang setiap hari aku tuliskan di grup  WA untuk mengingatkan mereka agar segera menyetorkan hasil tulisan mereka.

Ketika aku mengunggah tulisan mereka di web, aku baru sadar ada satu orang yang belum mengumpulkan tulisannya, ya...Ayu...belum mengirimkan tugasnya hari ini. Aku segera menghubunginya lewat jalur pribadi.

“Ayu...hari ini Ayu belum setor puisi ke ibu ya?” tanyaku.

Lama aku tidak mendapatkan balasan dari Ayu. Aku telepon pun tidak diangkat-angkat.  Sesungguhnya aku merasa heran, Ayu tak biasanya seperti ini.

Tring...tring...bunyi pesan di handphoneku berbunyi. Kulihat waktu menunjukan pukul 22.30 WIB, aku  yang tadi sudah tertidur, segera membuka pesan takut ada pesan penting yang masuk. Ketika kulihat ternyata itu pesan dari Ayu.

“Ibu, maaf mengganggu malam-malam. Ini Ayu. Ayu sakit gak bisa bangun, kepala Ayu terasa berat, mual sama demam juga, dari kemarin malam Ayu gak bisa bangun dari tempat  tidur. Jadi pesan ibu baru bisa Ayu baca sekarang. Ayu mau setor puisi Bu. Masih bisakah kalau Ayu setor sekarang?” jelas Ayu kepadaku.

“Owh iya, Ayu..Boleh kok kalau Ayu mau setor puisi sekarang, gak apa-apa. Ayu jangan terlalu cape ya, istirahat saja, biar Ayu cepat sembuh. Semangat sehat ya Yu...”balasku.

Akhirnya batas akhir waktu pengumpulan tulisan untuk Tantangan Literasi pun tibalah, dan aku pun dapat mengumpulkan semua tugas dari lima peserta tantangan tepat pada waktunya, yakni tanggal 20 April 2021, termasuk Ayu pun  bisa mengikuti tantangan sampai selesai. Ah lega rasanya... tantangan literasi ini dapat terlewati walau banyak rintangan menghadang, dari mulai ada peserta yang sakit, kuota peserta habis jadi tidak bisa kirim lewat WA, sehingga aku sarankan tulis tangan dan kirim ke rumah, jaringan tidak stabil pas unggah ke web, laptop aku yang jebol hardisknya, sampai para peserta yang mengeluhkan buntu gak ada ide menulis, pokoknya suka duka mereka curhatkan padaku.

Waktu yang dinantikan pun tiba, pengumuman untuk para peserta yang Lolos Tantangan Literasi pun diumumkan. Ketika aku membaca hasilnya perasaan bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. Ternyata dari 5 orang peserta dari sekolahku, 4 orang Lolos, dan 1 orang tidak Lolos. Dan yang tidak Lolos adalah AYU.

Ya Tuhan...apa yang harus aku sampaikan kepada Ayu? Ayulah yang membantuku dari sejak awal tantangan ini bergulir. Tak tega rasanya aku memberitahukannya bahwa dialah satu-satunya yang tidak lolos tantangan. Namun, kabar ini suka tidak suka harus aku sampaikan kepada Ayu.

“Assalamualaikum Ayu...ada kabar yang ingin ibu sampaikan kepada Ayu.” Aku memulai obrolan di chat pribadi dengan Ayu.

“Oh iya, ada Apa Bu?” tanya Ayu penasaran.

“Hasil pengumuman Lolos tantangan sudah ada, Yu.” Jawabku.

“Wah, sudah ada Bu? Ayu Lolos gak Bu?” tanya Ayu semakin antusias.

“Kabar yang ingin ibu sampaikan adalah...mohon maaf ya Ayu, Ayu ternyata dinyatakan Tidak Lolos, Ayu jangan sedih ya...” hiburku.

“Yang lain gimana Bu? Apa hanya Ayu saja yang tidak lolos?” tanya Ayu lagi.

“Yang lain Lolos Yu...”jawabku.

“Oh...alhamdulillah...syukurlah kalau yang lain lolos.” Jawab Ayu.

Aku tahu betapa sedih dan kecewanya Ayu pada saat itu. Namun dia berusaha untuk tidak memperlihatkannya kepadaku.

“Dewan juri sangat jeli dan selektif ketika memberikan penilaian, ada 6 kriteria penilaiannya Yu. Diataranya jumlah halaman ada 20 halaman, puisinya diunggah di web, naskahnya harus asli buatan sendiri, para peserta tidak boleh meniru puisi orang lain, naskahnya harus sesuai dengan tema yang sudah ditentukan, struktur bahasanya harus tepat, dan teknik penulisannya harus benar.”

“Ayu dari keenam kriteria penilaian itu, lolos lima penilaian, tapi ada 1 kriteria yang Ayu tidak lolos. Menurut Ayu, kriteria mana yang Ayu tidak lolos.” tanyaku kepada Ayu.

“Ayu tidak tahu, Bu.” jawab Ayu singkat.

“Ayu tidak lolos karena ada naskah atau puisi Ayu yang dinilai oleh juri tidak asli. Mungkin ada salah satu  puisi Ayu yang oleh juri ditemukan sama dengan karya orang lain yang sudah di unggah di google sebelumnya. Kan ibu sudah ingatkan berkali-kali tidak boleh meniru karya orang lain, naskahnya harus asli buatan sendiri. Pahamkan maksud ibu?” jelasku memberikan pengertian kepada Ayu.

“Iya,Bu. Ayu paham. Maafkan Ayu...”

“Ini pelajaran dan pengalaman berharga buat kita, betapa pentingnya menghargai karya orang lain. Namun, jangan sampai kejadian ini membuat Ayu jadi putus asa ya...Ayu harus tetap semangat.” Aku berusaha menghiburnya.

“Iya, Bu.” jawab Ayu.

****

Sekolah kami pun bermaksud untuk mengadakan acara penyerahan medali dan piagam penghargaan  bagi peserta tantangan literasi. Seperti biasa aku pun mengumumkannya di grup WA agar semua peserta tantangan datang ke sekolah. Semua antusias menjawab siap datang, namun tidak dengan Ayu. Dia tidak merespon apapun di grup.

Seperti biasa aku menge-chat langsung ke Ayu, mengundang agar Ayu bersedia hadir untuk penyerahan piagam penghargaan sebagai peserta tantangan.

“Ayu, besok datang untuk menerima piagam penghargaan ya...” pintaku pada Ayu. Bagaimanapun Ayulah siswaku yang paling semangat berliterasi dan selalu siap bila aku meminta bantuan setiap ada kegiatan di sekolah. Aku tidak ingin semangatnya mengendur setelah dia tidak lolos tantangan.

“Tapi Bu, Ayu malu...yang lain pasti dikalungi medali sedangkan Ayu tidak...” jawab Ayu.

“Pihak Sekolah, khususnya ibu tidak akan membeda-bedakan mana yang lolos mana yang tidak, bagi kami kalian adalah juaranya. Juara dalam menaklukan rasa malas, rasa tidak percaya diri, dan belajar untuk menghargai waktu, dan mau mengakui kekhilafan adalah hal yang luar biasa, asalkan kita tidak melakukan kesalahan yang sama di masa depan. Ibu percaya Ayu pasti  mampu menghasilkan karya-karya yang luar biasa ke depannya Ibu percaya Ayu belajar banyak dari kegiatan tantangan literasi ini. Kita sudah sama-sama melewati tantangan ini, jadi ibu tunggu besok di sekolah ya, medali khusus untuk Ayu sudah ibu siapkan, asalkan Ayu tetap semangat berliterasi...”

Akhirnya Ayu pun bersedia hadir pada acara penyerahan medali dan piagam penghargaan di sekolah. Meskipun dalam surat keputusan dari juri dan panitia tantangan literasi sekolah kami hanya memperoleh empat medali untuk peserta yang lolos tantangan, namun bagi kami guru-gurunya semua peserta tantangan adalah juaranya. Nampak wajah Ayu kembali tersenyum, dan semangat baru kembali terpancar pada aura wajahnya. Sebagai manusia kita memang tidak luput dari khilaf, namun kita harus belajar untuk bisa memperbaiki diri agar tidak melakukan kesalahan yang sama di masa yang akan datang. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, kegagalan adalah cambuk agar kita bisa lebih baik lagi di masa depan, secercah harap harus tetap kita tanamkan baik pada diri sendiri, maupun pada orang lain, karena kesempatan lain menunggu di depan mata. Semoga keberhasilan segera menghampiri kita.

*ysm*

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 20 Oktober 2021

SEGITIGA RESTITUSI UPAYA TUMBUHKAN MOTIVASI INTERNAL PADA MURID

 

Oleh : Yusi Sri Mulyani, S.Pd.

CGP Angkatan 3

SMPN 1 Pabuaran Kabupaten Subang

 

Program Pendidikan Guru Penggerak merupakan program pendidikan kepemimpinan bagi guru  untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Program ini meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan pendampingan selama 9 bulan bagi calon guru penggerak.

Selama dua bulan terakhir mengikuti pendidikan guru penggerak angkatan 3 ini, calon guru  penggerak khususnya dari Kabupaten Subang sudah mempelajari modul 1. Dalam Modul 1 juga terdiari atas 4 materi, yakni modul 1.1 mengenai Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, modul 1.2 mengenai Nilai dan Peran Guru Penggerak, modul 1.3 mengenai Visi Guru Penggerak, dan modul 1.4 mengenai Budaya Positif.

Pada modul 1.1 mengenai Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, calon guru penggerak mempelajari mengenai tujuan pendidikan menurut  Ki Hadjar Dewantara adalah menuntun segala kodrat pada anak untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Intinya adalah biarkan anak-anak hidup sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu, atau yang dikenal dengan konsep merdeka belajar. Merdeka menurut pemikiran Ki Hadjar Dewantara di kutip dalam modul 1.4 (Ki Hadjar Dewantara, pemikiran, konsepi, keteladanan, sikap merdeka, cetakan kelima, 2013, halaman 469),  merdeka berarti tidak hanya terlepas dari perintah, akan tetapi juga cakap buat memerintah diri sendiri. Berangkat dari pemikiran tersebut berarti  apabila murid melakukan suatu kesalahan mereka dapat memperbaiki dirinya sendiri.

Untuk modul 1.2, calon guru penggerak dibekali dengan  pengetahuan tentang nilai dan peran guru penggerak. Adapun nilai-nilai yang harus dikuasai oleh seorang guru penggerak adalah nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Selain nilai-nilai, CGP juga harus paham betul mengenai lima peran guru penggerak, yakni menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antarguru, dan mewujudkan kepemimpinan murid. Sebagai seorang pendidik yang paham mengenai konsep merdeka belajar dan menjadi pemimpin pembelajaran, tentunya dapat menuntun murid untuk menemukan minat dan bakatnya melalui pendekatan yang membuat murid merasa nyaman ketika mereka berada di sekitar kita. Untuk mewujudkan kepemimpinan pada murid juga membutuhkan situasi belajar dalam lingkungan yang positif.  Untuk mewujudkan lingkungan positif tersebut tentunya dibutuhkan kerjasama atau kolaborasi semua elemen sekolah. Dengan adanya dukungan dari semua elemen sekolah, lingkungan positif bahkan budaya positif akan terbentuk dengan sendirinya.

Modul selanjutnya adalah modul 1.3, yang mempelajari mengenai visi guru penggerak. Seorang guru penggerak merupakan agen perubahan dalam dunia pendidikan, tentunya harus memiliki visi untuk dapat melakukan sebuah perubahan. Dalam hal ini, visi yang dikembangkan oleh saya sebagai calon guru penggerak adalah menumbuhkan pendidikan karakter yang berpihak pada murid melalui guru dan sekolah untuk mewujudkan profil pelajar pancasila. Sangat penting memadukan kekuatan internal dan kekuatan eksternal untuk mewujudkan visi, sebagai salah satu strategi perubahan itu adalah dengan menggunakan metode inkuiri apresiatif melalui tahapan BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi). Karena visi saya untuk menumbuhkan pendidikan karakter pada murid, maka erat kaitannya dengan disiplin positif. Sebagai seoang pendidik tentunya dapat menanamkan motivasi intrinsik/internal pada murid berlandaskan nilai-nilai kebajikan agar menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka percaya dan mereka hargai.

Dan pada modul 1.4, para calon guru penggerak diperkenalkan dengan budaya positif. Budaya Positif adalah Kebiasaan yang disepakati bersama untuk dijalankan dalam waktu yang lama. Jika kebiasaan ini sudah membudaya maka nilai-nilai karakter yang diharapkan akan terbentuk pada diri anak. Untuk itu seorang pendidik harus paham mengenai disiplin positif, posisi kontrol, keyakinan kelas,  kebutuhan dasar murid, dan penerapan segitiga restitusi.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa disiplin positif berkaitan erat dengan motivasi internal. Murid belajar untuk menghargai diri sendiri dan menjadi insan yang sesuai dengan harapan kita. Karakter anak diharapkan dapat terbentuk melalui tahapan sebagai berikut, awalnya murid-murid menuliskan kelas impian yang mereka harapkan. Murid dapat mewujudkan kelas impiannya dengan membuat kesepakan kelas. Kesepakan kelas/peraturan kelas dapat berkembang menjadi keyakinan kelas. Murid mulai memahami nilai keyakinan atau nilai-nilai kebajikan seperti bertanggung jawab, saling menghormati, saling menyayangi, disiplin, saling menghargai, semangat belajar, menjaga kebersihan, peduli terhadap teman, dan lain sebagainya. Setelah murid mulai memahami dan menerapkan keyakinan kelas, maka lingkungan positif akan terbentuk, apabila lingkungan positif terbentuk, maka budaya positif pun dengan sendirinya akan terwujud. Karena pada dasarnya keyakinan kelas dibuat atas kesepakatan bersama untuk membentuk kebiasaan yang diharapkan dapat membudaya sehingga nilai-nilai karakter akan terbentuk pada diri anak.

Bagi kita sebagai seorang pendidik pun, kita harus  memahami 5 posisi kontrol yang mana yang dapat diterapkan pada murid. Lima posisi kontrol itu yakni sebagi penghukum, pembuat orang merasa bersalah, teman, pemantau, dan manajer. Untuk posisi kontrol sebagai penghukum dan pembuat orang merasa bersalah, motivasinya adalah motivasi eksternal, dan berdampak pada murid akan mengulangi kesalahan dan merasa rendah diri, sehingga identitas pada murid gagal terbentuk.  Pada posisi kontrol sebagai teman dan pemantau itu pun adalah motivasi dari luar atau motivasi eksternal, identitas murid dapat berhasil, namun membuat murid mengharapkan imbalan dari tindakannya, bahkan cenderung membuat murid ketergantungan pada orang lain. Sedangkan untuk posisi kontrol sebagai manajer motivasi nya berasal dari diri anak itu  sendiri, murid bisa belajar menghargai dirinya sendiri, sehingga identitas murid dapat berhasil dan sukses terbentuk. Sisi positif lainnya yang  berdampak murid adalah mereka dapat mengevaluasi dan memperbaiki dirinya sendiri.Jadi, sebagai seorang pendidik, kita  harus dapat menerapkan posisi kontrol sebagai manajer dengan mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya dan menemukan solusi sendiri

Seorang pendidik  juga harus mampu memahami 5 kebutuhan dasar pada murid, yakni bertahan hidup,, cinta dan kasih sayang, penguasaan, kebebasan, dan kesenamgan. Apabila kebutuhan dasarnya terpenuhi diharapkan murid tidak akan melakukan pelanggaran atau kesalahan. Namun sebaliknya, jika kebutuhan dasar murid gagal terpenuhi maka murid cenderung melakukan pelanggaran/kesalahan.

Dalam mengatasi murid yang bermasalah, maka guru harus melakukan restitusi. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa tumbuh menjadi karakter yang lebih kuat. Proses ini meliputi tiga tahap atau dikenal dengan segitiga restitusi, yaitu menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan. Dengan tahapan segitiga restitusi ini, murid diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri melalui motivasi internal. Sehingga segitiga restitusi ini adalah salah satu upaya untuk menumbuhkan motivasi internal pada murid. Pada tahapan ini murid tidak merasa dihakimi, tidak dipersalahan, dan akan menyadari kesalahannya dan bersedia memperbaiki kesalahannya berdasarkan kesadarannnya sendiri. *ysm*