SECERCAH
HARAP
Yusi
Sri Mulyani
Kegiatan
literasi di sekolahku di masa pandemi covid-19 ini hampir mati suri. Kegiatan
pembiasaan membaca 15 menit yang biasa kami lakukan setiap pagi tak berjalan seperti biasa. Tak ada juga
kegiatan Readathon yang biasa kami lakukan setiap awal bulan. Pohon geulis atau
pohon literasi yang terpajang di tiap kelas pun tak lagi rimbun oleh daun yang
biasa diisi oleh daun dari siswa yang sudah menuntaskan bacaannya. Pojok baca
di setiap sudut kelas pun kini buku-bukunya tak tersentuh bahkan kotor dan
berdebu. Yah..Jangankan untuk memantau kegiatan literasi, untuk kegiatan
belajar pun saat ini terasa sulit untuk
dilakukan mengingat segala keterbatasan yang ada.
Sampai
suatu hari ada sebuah tantangan literasi datang dari salah satu komunitas literasi yang bekerja sama dengan Dinas Kabupaten.
Tentu saja saya sebagai pembina literasi menyambut baik tantangan ini, karena
terus terang saja saya sangat ingin anak-anak yang saya bina di sekolah dapat
mengikuti tantangan itu, dengan tujuan untuk menghidupkan kembali ruh literasi
agar tak lagi mati suri. Namun, bagaimana caranya?
“Haloo...ini
Ayu?” aku mencoba menghubungi salah satu siswa kelas 8 melalui sambungan
telepon selular.
“Iya,
Ini Ayu. Ini dengan siapa ya?” tanya Ayu balik bertanya.
“Ini
Bu Susi. Ayu bisa datang ke sekolah hari ini pukul 9? Ada yang mau ibu
sampaikan pada Ayu.” Jawabku.
“Iya,
bisa Bu.” Jawab Ayu singkat.
Setelah
aku menghubungi Ayu di telepon, tak berapa lama Ayu datang ke sekolah
menemuiku.
Aku
segera menceritakan tentang tantangan literasi yang hendak diikuti, dan aku
bilang bahwa aku bermaksud untuk mencari
5 orang yang siap mengikuti tantangan ini. Aku menanyakan apakah Ayu
bersedia mengikuti tantangan literasi itu atau tidak. Awalnya dia berpikir lama
dan tidak segera menjawab pertanyaanku.
“Bagaimana
Yu? Ayu kan senang membaca, pasti Ayu bisa ikut tantangan ini.” Bujukku pada
Ayu.
“Ayu
memang suka membaca Bu, tapi kalau menulis apa Ayu bisa?” Ayu seolah tidak
yakin dengan kemampuannya.
“Ibu
yakin Ayu pasti bisa, nanti kalau lolos Ayu akan mendapatkan medali dan piagam
penghargaan yang bisa Ayu gunakan untuk melanjutkan sekolah lewat jalur
prestasi.” Aku mencoba meyakinkan.
Setelah
aku membujuknya akhirnya Ayu pun bersedia untuk mengikuti tantangan itu. Aku
pun langsung menanyakan kepada Ayu kira-kira siapa lagi yang bisa diajak gabung
untuk mengikuti tantangan ini. Ayu kemudian merekomendasikan beberapa
teman-temannnya yang mungkin bersedia
untuk gabung.
Atas
rekomendasi Ayu, aku pun segera menghubungi nomor telepon yang sudah diberikan
Ayu. Dan ternyata anak-anak yang aku hubungi kebanyakan menolak ajakanku. Ada
saja alasan yang mereka utarakan. Ada yang bilang ingin konsentrasi
mengerjakan tugas sekolah, ada yang
sibuk jagain adiknya, ada yang bilang
tidak punya bakat menulis, dan ada juga yang harus bantuin orang tua
jualan di pasar sehingga tidak sanggup mengikuti tantangan. Ternyata mengajak
anak-anak untuk bergabung mengikuti kegiatan ini adalah pekerjaan yang tidak
mudah dan sangat sulit. Berbeda mungkin
ketika aku bisa bertatap muka dengan mereka, di era pandemi ini aku sangat
kesulitan untuk bisa bertatap muka, kalau hanya lewat WA atau telepon
sepertinya sulit sekali meyakinkan mereka.
Ayu
yang melihat aku selalu menelan kekecewaan selama tadi aku menghubungi
teman-temannya, kemudian dia pun memberikan secercah harap.
“Bu,
Ayu akan coba hubungi Lia ya, barangkali dia bersedia.” Ayu pun berusaha
membantuku.
“Iya,
Yu, boleh banget...semoga Lia mau ikut gabung ya...” harapku.
Ayu
pun menghubungi Lia dan hasilnya Ayu ternyata sanggup meyakinkan Lia untuk bisa
bergabung mengikuti tantangan ini.
Aku
memang kesulitan menghubungi kelas 8 karena selama pandemi ini aku belum pernah
mengajar tatap muka secara langsung, kami hanya dipertemukan dalam tatap muka
virtual saja. Sehingga kedekatan batin antara aku dengan siswaku terasa kurang.
Sehingga aku tidak dapat meyakinkan mereka, yah...ini sebenarnya hanya menurut
perkiraan aku saja sih yang merasa
kesulitan mencari peserta tantangan. Siswa kelas 8 yang sudah aku hubungi kebanyakan menolak ajakanku. Tapi walaupun
begitu aku bersyukur sudah ada dua orang yang bersedia gabung, yakni Ayu dan
Lia. Akhirnya aku pun memutuskan akan mengikutsertakan kelas 9 saja untuk
memenuhi jumlah peserta agar lengkap 5 orang. Dan alhamdulillah akhirnya aku
bisa meyakinkan siswa kelas 9 untuk mengikuti tantangan ini. Jadi, yang
mengikuti tantangan ini 2 orang dari kelas 8 dan 3 orang dari kelas 9.
Langkah
pertama yang aku lakukan adalah membuat WA grup untuk para siswa yang mengikuti
tantangan. Aku menjelaskan ketentuan dalam tantangan literasi ini, bahwa mereka harus sanggup menulis satu hari
satu halaman selama 20 hari bisa berupa cerpen atau bisa juga puisi.
“Siapa
yang senang menulis cerpen di grup ini? Tanyaku dalam percakapan di WA grup.
“Nisa,
suka cerpen Bu. Biar Nisa coba menulis cerpen saja.” Jawab Nisa.
“Selain
Nisa, ada yang lainkah yang sama ingin mengikuti tantangan menulis cerpen?”
tanyaku lagi. Selang berapa lama, namun tak ada jawaban atas pertanyaanku.
“Kalau
yang mau ikut tantangan puisi siapa?” aku mencoba memberikan pilihan.
Setelah
aku tanya di WA grup ternyata tak juga ada yang menjawab pertanyaanku, padahal
aku tahu kalau pesanku itu sudah dibaca oleh mereka.
Aku
pun mulai bertanya langsung lewat jalur pribadi, dan ternyata setelah aku
tanyakan kenapa mereka tidak menjawab pertanyaanku di grup, kebanyakan dari
mereka merasa malu untuk jawab di grup. Bahkan ternyata untuk meyakinkan mereka
memilih tantangan apa yang siap untuk
mereka ikuti tidak semudah yang dibayangkan. Ada juga yang merasa tidak percaya
diri bahwa dia sanggup melewati tantangan selama 20 hari untuk terus menerus menulis. Bahkan ada juga
yang hendak mengundurkan diri. Ya Tuhan, tantangannya saya belum dimulai sudah
mau mengundurkan diri...mungkin ini adalah tantangan juga buat aku agar aku
bisa diberikan kesabaran lebih dalam membimbing anak-anakku ini.
Setelah
berusaha meyakinkan dengan berbagai alasan dan bujukan, akhirnya mereka pun mau
menentukan pilihannya. Nisa yang memang senang membaca novel, memutuskan
mengikuti tantangan menulis cerpen, sedangkan empat orang lainnya yaitu Ayu,
Lia, Ita, dan Putra memutuskan ikut tantangan menulis Puisi.
Sejak
hari itu, dari mulai tanggal 1April 2021, aku mulai mengumpulkan hasil tulisan
mereka setiap hari. Hampir setiap hari aku mengingatkan mereka untuk menulis,
agar jangan sampai mereka lupa atau tidak menulis, besar harapan saya agar
mereka mampu mengalahkan rasa tidak percaya diri mereka sehingga mampu menjadi
pribadi yang percaya diri dan sanggup melalui tantangan ini dengan baik.
“Ayo,
yang belum setor tulisannya hari ini ibu tunggu ya, ibu akan segera mengunggah
tulisan kalian ke web-nya. Sekarang sudah hari ke-18, perjalanan kita menuju
kesuksesan ada di depan mata, tetap semangat ya...” kalimat itulah yang setiap
hari aku tuliskan di grup WA untuk
mengingatkan mereka agar segera menyetorkan hasil tulisan mereka.
Ketika
aku mengunggah tulisan mereka di web, aku baru sadar ada satu orang yang belum
mengumpulkan tulisannya, ya...Ayu...belum mengirimkan tugasnya hari ini. Aku
segera menghubunginya lewat jalur pribadi.
“Ayu...hari
ini Ayu belum setor puisi ke ibu ya?” tanyaku.
Lama
aku tidak mendapatkan balasan dari Ayu. Aku telepon pun tidak
diangkat-angkat. Sesungguhnya aku merasa
heran, Ayu tak biasanya seperti ini.
Tring...tring...bunyi
pesan di handphoneku berbunyi. Kulihat
waktu menunjukan pukul 22.30 WIB, aku yang tadi sudah tertidur, segera membuka pesan
takut ada pesan penting yang masuk. Ketika kulihat ternyata itu pesan dari Ayu.
“Ibu,
maaf mengganggu malam-malam. Ini Ayu. Ayu sakit gak bisa bangun, kepala Ayu
terasa berat, mual sama demam juga, dari kemarin malam Ayu gak bisa bangun dari
tempat tidur. Jadi pesan ibu baru bisa
Ayu baca sekarang. Ayu mau setor puisi Bu. Masih bisakah kalau Ayu setor
sekarang?” jelas Ayu kepadaku.
“Owh
iya, Ayu..Boleh kok kalau Ayu mau setor puisi sekarang, gak apa-apa. Ayu jangan
terlalu cape ya, istirahat saja, biar Ayu cepat sembuh. Semangat sehat ya
Yu...”balasku.
Akhirnya
batas akhir waktu pengumpulan tulisan untuk Tantangan Literasi pun tibalah, dan
aku pun dapat mengumpulkan semua tugas dari lima peserta tantangan tepat pada
waktunya, yakni tanggal 20 April 2021, termasuk Ayu pun bisa mengikuti tantangan sampai selesai. Ah
lega rasanya... tantangan literasi ini dapat terlewati walau banyak rintangan
menghadang, dari mulai ada peserta yang sakit, kuota peserta habis jadi tidak
bisa kirim lewat WA, sehingga aku sarankan tulis tangan dan kirim ke rumah,
jaringan tidak stabil pas unggah ke web, laptop aku yang jebol hardisknya, sampai
para peserta yang mengeluhkan buntu gak ada ide menulis, pokoknya suka duka mereka
curhatkan padaku.
Waktu
yang dinantikan pun tiba, pengumuman untuk para peserta yang Lolos Tantangan
Literasi pun diumumkan. Ketika aku membaca hasilnya perasaan bahagia dan sedih
bercampur menjadi satu. Ternyata dari 5 orang peserta dari sekolahku, 4 orang
Lolos, dan 1 orang tidak Lolos. Dan yang tidak Lolos adalah AYU.
Ya
Tuhan...apa yang harus aku sampaikan kepada Ayu? Ayulah yang membantuku dari
sejak awal tantangan ini bergulir. Tak tega rasanya aku memberitahukannya bahwa
dialah satu-satunya yang tidak lolos tantangan. Namun, kabar ini suka tidak
suka harus aku sampaikan kepada Ayu.
“Assalamualaikum
Ayu...ada kabar yang ingin ibu sampaikan kepada Ayu.” Aku memulai obrolan di chat pribadi dengan Ayu.
“Oh
iya, ada Apa Bu?” tanya Ayu penasaran.
“Hasil
pengumuman Lolos tantangan sudah ada, Yu.” Jawabku.
“Wah,
sudah ada Bu? Ayu Lolos gak Bu?” tanya Ayu semakin antusias.
“Kabar
yang ingin ibu sampaikan adalah...mohon maaf ya Ayu, Ayu ternyata dinyatakan
Tidak Lolos, Ayu jangan sedih ya...” hiburku.
“Yang
lain gimana Bu? Apa hanya Ayu saja yang tidak lolos?” tanya Ayu lagi.
“Yang
lain Lolos Yu...”jawabku.
“Oh...alhamdulillah...syukurlah
kalau yang lain lolos.” Jawab Ayu.
Aku
tahu betapa sedih dan kecewanya Ayu pada saat itu. Namun dia berusaha untuk
tidak memperlihatkannya kepadaku.
“Dewan
juri sangat jeli dan selektif ketika memberikan penilaian, ada 6 kriteria
penilaiannya Yu. Diataranya jumlah halaman ada 20 halaman, puisinya diunggah di
web, naskahnya harus asli buatan sendiri, para peserta tidak boleh meniru puisi
orang lain, naskahnya harus sesuai dengan tema yang sudah ditentukan, struktur
bahasanya harus tepat, dan teknik penulisannya harus benar.”
“Ayu
dari keenam kriteria penilaian itu, lolos lima penilaian, tapi ada 1 kriteria
yang Ayu tidak lolos. Menurut Ayu, kriteria mana yang Ayu tidak lolos.” tanyaku
kepada Ayu.
“Ayu
tidak tahu, Bu.” jawab Ayu singkat.
“Ayu
tidak lolos karena ada naskah atau puisi Ayu yang dinilai oleh juri tidak asli.
Mungkin ada salah satu puisi Ayu yang
oleh juri ditemukan sama dengan karya orang lain yang sudah di unggah di google
sebelumnya. Kan ibu sudah ingatkan berkali-kali tidak boleh meniru karya orang
lain, naskahnya harus asli buatan sendiri. Pahamkan maksud ibu?” jelasku
memberikan pengertian kepada Ayu.
“Iya,Bu.
Ayu paham. Maafkan Ayu...”
“Ini
pelajaran dan pengalaman berharga buat kita, betapa pentingnya menghargai karya
orang lain. Namun, jangan sampai kejadian ini membuat Ayu jadi putus asa
ya...Ayu harus tetap semangat.” Aku berusaha menghiburnya.
“Iya,
Bu.” jawab Ayu.
****
Sekolah
kami pun bermaksud untuk mengadakan acara penyerahan medali dan piagam
penghargaan bagi peserta tantangan
literasi. Seperti biasa aku pun mengumumkannya di grup WA agar semua peserta
tantangan datang ke sekolah. Semua antusias menjawab siap datang, namun tidak
dengan Ayu. Dia tidak merespon apapun di grup.
Seperti
biasa aku menge-chat langsung ke Ayu, mengundang agar Ayu bersedia hadir untuk
penyerahan piagam penghargaan sebagai peserta tantangan.
“Ayu,
besok datang untuk menerima piagam penghargaan ya...” pintaku pada Ayu.
Bagaimanapun Ayulah siswaku yang paling semangat berliterasi dan selalu siap
bila aku meminta bantuan setiap ada kegiatan di sekolah. Aku tidak ingin
semangatnya mengendur setelah dia tidak lolos tantangan.
“Tapi
Bu, Ayu malu...yang lain pasti dikalungi medali sedangkan Ayu tidak...” jawab
Ayu.
“Pihak
Sekolah, khususnya ibu tidak akan membeda-bedakan mana yang lolos mana yang
tidak, bagi kami kalian adalah juaranya. Juara dalam menaklukan rasa malas,
rasa tidak percaya diri, dan belajar untuk menghargai waktu, dan mau mengakui
kekhilafan adalah hal yang luar biasa, asalkan kita tidak melakukan kesalahan
yang sama di masa depan. Ibu percaya Ayu pasti mampu menghasilkan karya-karya yang luar biasa
ke depannya Ibu percaya Ayu belajar banyak dari kegiatan tantangan literasi ini.
Kita sudah sama-sama melewati tantangan ini, jadi ibu tunggu besok di sekolah
ya, medali khusus untuk Ayu sudah ibu siapkan, asalkan Ayu tetap semangat
berliterasi...”
Akhirnya
Ayu pun bersedia hadir pada acara penyerahan medali dan piagam penghargaan di
sekolah. Meskipun dalam surat keputusan dari juri dan panitia tantangan
literasi sekolah kami hanya memperoleh empat medali untuk peserta yang lolos
tantangan, namun bagi kami guru-gurunya semua peserta tantangan adalah
juaranya. Nampak wajah Ayu kembali tersenyum, dan semangat baru kembali
terpancar pada aura wajahnya. Sebagai manusia kita memang tidak luput dari
khilaf, namun kita harus belajar untuk bisa memperbaiki diri agar tidak
melakukan kesalahan yang sama di masa yang akan datang. Kegagalan bukanlah
akhir dari segalanya, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, kegagalan adalah
cambuk agar kita bisa lebih baik lagi di masa depan, secercah harap harus tetap
kita tanamkan baik pada diri sendiri, maupun pada orang lain, karena kesempatan
lain menunggu di depan mata. Semoga keberhasilan segera menghampiri kita.
*ysm*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar