Pengikut

Minggu, 10 April 2022

AKSI CLBK (Ayo Kibarkan Semangat BerkreasI Cinta Literasi Berbuah Karya)

 

Oleh : Yusi Sri Mulyani, S.Pd.

Program AKSI CLBK adalah program yang digulirkan oleh Calon Guru Penggerak di SMP Negeri 1 Pabuaran Kabupaten Subang. AKSI CLBK merupakan akronim dari Ayo Kibarkan Semangat BerkreasI Cinta Literasi Berbuah Karya. Adapun Tujuan Program ini adalah untuk meningkatkan kompetensi kepemimpinan murid melalui budaya positif  literasi di SMPN 1 Pabuaran.

Latar belakang adanya Program AKSI CLBK ini merupakan sebuah aksi nyata yang  dilakukan oleh Calon Guru Penggerak karena melihat fakta di lapangan bahwa Minat membaca murid SMPN 1 Pabuaran menjadi berkurang selama pandemi covid-19 ini. Dan hal ini berdampak pada kegiatan pembelajaran. Murid terbiasa mengerjakan tugas secara daring dan sulit terlepas dari gawainya. murid menjadi pasif, kurang percaya diri, dan kurang bersosialisasi.

Berdasarkan latar belakang situasi yang dihadapi tersebut, maka Sekolah kami mencoba untuk mengembangkan kemampuan murid sebagai student agency untuk mengarahkan pembelajaran mereka sendiri dengan membuat program kokurikuler yakni AKSI CLBK yang diharapkan mampu menguatkan pemahaman terhadap materi ajar yang diberikan guru di kelas kepada murid. Dengan kata lain bahwa program kokurikuler ini menjadi penunjang kegiatan intrakurikuler supaya para murid dapat lebih mudah memahami apa yang disampaikan oleh guru melalui pelajaran di kelas. Dengan demikian,  kemampuan membaca dan menulis murid dapat kembali menggeliat dan semangat belajar mereka akan semakin meningkat.

Alasan melaksanakan AKSI CLBK ini karena CGP merasa perlu Budaya Positif Literasi digali kembali untuk meningkatkan minat membaca dan juga menulis pada murid. Kemampuan murid sebagai student agency untuk mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan rasa ingin tahu, berpartisipasi dan berkontribusi pada komunitas belajar, mengkomunikasikan pemahaman mereka kepada orang lain, dan melakukan tindakan nyata sebagai hasil proses belajarnya. Program ini akan mengawali giat literasi sehingga diharapkan dapat menghasilkan sebuah karya milik murid sendiri.



 

Dalam mengawali program ini, kami mulai dengan pendidikan karakter pembiasaan literasi yang dilaksanakan setiap Hari Jumat. Kegiatan membaca dilakukan 15 menit di lapangan secara serentak atau dapat pula dilakukan di dalam kelas dengan memanfaatkan pojok baca kelas. Bagi murid yang sudah tuntas membaca buku, murid pun akan menuliskan review buku dengan berbagai teknik yang diminatinya, dapat dengan teknik fishbone, AIH, Y Chart, ataupun Infografis, dengan begitu murid terbiasa membaca dan juga menulis.


Di setiap kelas pun para murid membuat pohon geulis/pohon literasi sesuai dengan kreasi mereka masing-masing. Apabila murid selesai membaca buku, maka mereka akan menuliskan identitas buku yang dibacanya dalam sebuah daun, dan daun itu pun akan di tempelkan pada pohon geulis sebagai rekam jejak bahwa mereka sudah tuntas membaca buku. Semakin rindang pohon geulis dengan banyaknya daun yang tertempel, kita dapat mengetahui bahwa murid semakin banyak yang sudah membaca buku dan menulis review, dengan demikian kita dapat mengetahui minat membaca dan menulis murid di SMPN 1 Pabuaran semakin meningkat.

Peningkatan minat membaca juga tentunya sangat berpengaruh terhadap kemampuan murid dalam menulis. Oleh sebab itu, sekolah kami pun memiliki komunitas belajar yang menampung murid bahkan juga guru-guru yang gemar menulis baik berupa puisi atau pun cerpen. Murid dan guru sama-sama belajar untuk menulis, khusus untuk para murid, kami menyediakan sarana/komunitas belajar untuk saling berbagi sehingga mereka dapat menghasilkan sebuah karya miliknya sendiri. Setiap karya yang mereka tulis akan dikumpulkan dan akan dipublikasikan, baik di mading  kelas, mading sekolah, dibagikan di media sosial, dan juga akan dibukukan menjadi sebuah buku antologi.


           Hasil Aksi nyata yang telah kami lakukan saat ini adalah kami telah membuat dua buah buku antologi puisi, yakni buku pertama berjudul  “Ikatan Cinta dalam Untaian Makna” dan buku kedua berjudul “Puisi Akrostik Nespa.” Dengan banyaknya hasil karya yang dikumpulkan oleh para murid dan juga antusias murid yang semakin bergairah dalam membaca dan menulis, maka tentunya sangat berdampak pada murid. Dampak pada murid yakni dapat menumbuhkan pendidikan karakter melalui pesan moral dari buku bacaan, dapat pula  menubuhkan jiwa kepemimpinan murid karena mereka menjadi aktif dan lebih percaya diri, bertanggung jawab, berkomitmen pada diri sendiri, mampu bersosialisasi dengan baik, dan konsisten dalam menghasilkan sebuah karya miliknya sendiri.

Perasaan saya ketika atau setelah menjalankan aksi nyata Program AKSI CLBK di SMPN 1 Pabuaran Kabupaten Subang tentunya merasa senang dan bangga karena ternyata program ini disambut baik oleh seluruh warga sekolah. Program ini juga sangat berdampak pada murid, diantaranya yaitu minat membaca mereka kembali menggeliat, mereka mampu mempresentasikan buku yang dibacanya kepada orang lain dengan penuh rasa percaya diri sehingga dapat membangun jiwa kepemimpinan pada murid. Bahkan murid pun mampu mengembangkan kemampuan menulisnya yang tentu saja berdampak pada hasil pembelajarannnya di kelas, gairah belajar murid meningkat dan mereka pun memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Selain itu, ada suatu kebanggaan tersendiri ketika para murid dan guru-guru berkolaborasi dan dapat menghasilkan sebuah karya berupa buku antologi.

Pembelajaran yang saya dapatkan dari Program AKSI CLBK adalah saya mulai menerapkan kepemimpinan pada murid (Student Agency) melalui budaya positif literasi. Namun pada pelaksanaanya terkadang ada kendala yang kami hadapi. Adapun kendala atau hambatan yang sering kami temui adalah berhubungan dengan suasana hati atau  Mood  dalam belajar, membaca dan menulis yang terkadang tidak stabil, melainkan pasti ada naik turunnnya, bahkan kadang rasa malas mengalahkan segala-galanya. Oleh sebab itu, dibutuhkan komitmen yang kuat dan pentingnya  suatu komunitas belajar yang satu sama lain harus saling menyemangati dan dibutuhkan juga suasana dan tempat belajar yang bervariasi, karena setiap murid memiliki kemampuan, kebutuhan dan minat yang berbeda-beda. Apapun strategi yang kita gunakan haruslah berdampak pada murid. Selain itu, saat ini saya mulai membuat perencanaan kegiatan yang berkesinambungan dalam proses pembelajaran yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis pada murid. Dengan memfasilitasi minat dan kebutuhannya, mereka dapat menyuarakan keinginannya, membuat pilihan-pilihan, dan merasa memiliki terhadap karya yang mereka hasilkan sendiri, yakni dapat berupa puisi ataupun cerpen. Hal ini dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab murid untuk memimpin minimal dirinya sendiri agar dapat konsisten dalam membuat sebuah karya.

Rencana perbaikan dalam penerapan ke depan saya akan melakukan strategi yang berbeda ketika menghadapi para murid baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Apapun strategi yang kita gunakan haruslah berdampak pada murid. Dalam setiap penerapan program sekolah harus memperhatikan suara, pilihan, dan kepemilikan pada murid. Setiap berkegiatan khususnya melaksanakan Program AKSI CLBK ini kita harus melibatkan murid secara aktif agar murid merasa diakui dan merasa memiliki terhadap proses belajarnya dan juga terhadap sekolahnya. Dengan budaya positif literasi melalui Program AKSI CLBK ini diharapkan jiwa kepemimpinan dan pendidikan karakter murid semakin terbentuk, murid menjadi lebih aktif, kreatif, inovatif, bertanggung jawab, semakin percaya diri, dan mampu berkreasi sehingga dapat menghasilkan sebuah karya mereka sendiri berupa buku antologi puisi dan cerpen.

 



Penulis bernama Yusi Sri Mulyani, S.Pd. Saat ini mengajar Bahasa Indonesia di SMPN 1 Pabuaran dan sedang mengikuti Pendidikan Guru penggerak Angkatan 3 di Kabuapaten Subang.


Kamis, 04 November 2021

SECERCAH HARAP

 

SECERCAH HARAP

Yusi Sri Mulyani

Kegiatan literasi di sekolahku di masa pandemi covid-19 ini hampir mati suri. Kegiatan pembiasaan membaca 15 menit yang biasa kami lakukan setiap pagi  tak berjalan seperti biasa. Tak ada juga kegiatan Readathon yang biasa kami lakukan setiap awal bulan. Pohon geulis atau pohon literasi yang terpajang di tiap kelas pun tak lagi rimbun oleh daun yang biasa diisi oleh daun dari siswa yang sudah menuntaskan bacaannya. Pojok baca di setiap sudut kelas pun kini buku-bukunya tak tersentuh bahkan kotor dan berdebu. Yah..Jangankan untuk memantau kegiatan literasi, untuk kegiatan belajar pun  saat ini terasa sulit untuk dilakukan mengingat segala keterbatasan yang ada.

Sampai suatu hari ada sebuah tantangan literasi datang dari  salah satu komunitas  literasi yang bekerja sama dengan Dinas Kabupaten. Tentu saja saya sebagai pembina literasi menyambut baik tantangan ini, karena terus terang saja saya sangat ingin anak-anak yang saya bina di sekolah dapat mengikuti tantangan itu, dengan tujuan untuk menghidupkan kembali ruh literasi agar tak lagi mati suri. Namun, bagaimana caranya?

“Haloo...ini Ayu?” aku mencoba menghubungi salah satu siswa kelas 8 melalui sambungan telepon selular.

“Iya, Ini Ayu. Ini dengan siapa ya?” tanya Ayu balik bertanya.

“Ini Bu Susi. Ayu bisa datang ke sekolah hari ini pukul 9? Ada yang mau ibu sampaikan pada Ayu.” Jawabku.

“Iya, bisa Bu.” Jawab Ayu singkat.

Setelah aku menghubungi Ayu di telepon, tak berapa lama Ayu datang ke sekolah menemuiku.

Aku segera menceritakan tentang tantangan literasi yang hendak diikuti, dan aku bilang bahwa aku bermaksud untuk mencari  5 orang yang siap mengikuti tantangan ini. Aku menanyakan apakah Ayu bersedia mengikuti tantangan literasi itu atau tidak. Awalnya dia berpikir lama dan tidak segera menjawab pertanyaanku.

“Bagaimana Yu? Ayu kan senang membaca, pasti Ayu bisa ikut tantangan ini.” Bujukku pada Ayu.

“Ayu memang suka membaca Bu, tapi kalau menulis apa Ayu bisa?” Ayu seolah tidak yakin dengan kemampuannya.

“Ibu yakin Ayu pasti bisa, nanti kalau lolos Ayu akan mendapatkan medali dan piagam penghargaan yang bisa Ayu gunakan untuk melanjutkan sekolah lewat jalur prestasi.” Aku mencoba meyakinkan.

Setelah aku membujuknya akhirnya Ayu pun bersedia untuk mengikuti tantangan itu. Aku pun langsung menanyakan kepada Ayu kira-kira siapa lagi yang bisa diajak gabung untuk mengikuti tantangan ini. Ayu kemudian merekomendasikan beberapa teman-temannnya  yang mungkin bersedia untuk gabung.

Atas rekomendasi Ayu, aku pun segera menghubungi nomor telepon yang sudah diberikan Ayu. Dan ternyata anak-anak yang aku hubungi kebanyakan menolak ajakanku. Ada saja alasan yang mereka utarakan. Ada yang bilang ingin konsentrasi mengerjakan  tugas sekolah, ada yang sibuk jagain adiknya, ada yang bilang  tidak punya bakat menulis, dan ada juga yang harus bantuin orang tua jualan di pasar sehingga tidak sanggup mengikuti tantangan. Ternyata mengajak anak-anak untuk bergabung mengikuti kegiatan ini adalah pekerjaan yang tidak mudah  dan sangat sulit. Berbeda mungkin ketika aku bisa bertatap muka dengan mereka, di era pandemi ini aku sangat kesulitan untuk bisa bertatap muka, kalau hanya lewat WA atau telepon sepertinya sulit sekali meyakinkan mereka.

Ayu yang melihat aku selalu menelan kekecewaan selama tadi aku menghubungi teman-temannya, kemudian dia pun memberikan secercah harap.

“Bu, Ayu akan coba hubungi Lia ya, barangkali dia bersedia.” Ayu pun berusaha membantuku.

“Iya, Yu, boleh banget...semoga Lia mau ikut gabung ya...” harapku.

Ayu pun menghubungi Lia dan hasilnya Ayu ternyata sanggup meyakinkan Lia untuk bisa bergabung mengikuti tantangan ini.

Aku memang kesulitan menghubungi kelas 8 karena selama pandemi ini aku belum pernah mengajar tatap muka secara langsung, kami hanya dipertemukan dalam tatap muka virtual saja. Sehingga kedekatan batin antara aku dengan siswaku terasa kurang. Sehingga aku tidak dapat meyakinkan mereka, yah...ini sebenarnya hanya menurut perkiraan aku saja sih yang merasa kesulitan mencari peserta tantangan. Siswa kelas 8 yang sudah aku hubungi  kebanyakan menolak ajakanku. Tapi walaupun begitu aku bersyukur sudah ada dua orang yang bersedia gabung, yakni Ayu dan Lia.  Akhirnya aku pun memutuskan  akan mengikutsertakan kelas 9 saja untuk memenuhi jumlah peserta agar lengkap 5 orang. Dan alhamdulillah akhirnya aku bisa meyakinkan siswa kelas 9 untuk mengikuti tantangan ini. Jadi, yang mengikuti tantangan ini 2 orang dari kelas 8 dan 3 orang dari kelas 9.

Langkah pertama yang aku lakukan adalah membuat WA grup untuk para siswa yang mengikuti tantangan. Aku menjelaskan ketentuan dalam tantangan literasi ini,  bahwa mereka harus sanggup menulis satu hari satu halaman selama 20 hari bisa berupa cerpen atau bisa juga puisi.

“Siapa yang senang menulis cerpen di grup ini? Tanyaku dalam percakapan di WA grup.

“Nisa, suka cerpen Bu. Biar Nisa coba menulis cerpen saja.” Jawab Nisa.

“Selain Nisa, ada yang lainkah yang sama ingin mengikuti tantangan menulis cerpen?” tanyaku lagi. Selang berapa lama, namun tak ada jawaban atas pertanyaanku.

“Kalau yang mau ikut tantangan puisi siapa?” aku mencoba memberikan pilihan.

Setelah aku tanya di WA grup ternyata tak juga ada yang menjawab pertanyaanku, padahal aku tahu kalau pesanku itu sudah dibaca oleh mereka.

Aku pun mulai bertanya langsung lewat jalur pribadi, dan ternyata setelah aku tanyakan kenapa mereka tidak menjawab pertanyaanku di grup, kebanyakan dari mereka merasa malu untuk jawab di grup. Bahkan ternyata untuk meyakinkan mereka memilih tantangan apa yang  siap untuk mereka ikuti tidak semudah yang dibayangkan. Ada juga yang merasa tidak percaya diri bahwa dia sanggup melewati tantangan selama 20 hari  untuk terus menerus menulis. Bahkan ada juga yang hendak mengundurkan diri. Ya Tuhan, tantangannya saya belum dimulai sudah mau mengundurkan diri...mungkin ini adalah tantangan juga buat aku agar aku bisa diberikan kesabaran lebih dalam membimbing anak-anakku ini.

Setelah berusaha meyakinkan dengan berbagai alasan dan bujukan, akhirnya mereka pun mau menentukan pilihannya. Nisa yang memang senang membaca novel, memutuskan mengikuti tantangan menulis cerpen, sedangkan empat orang lainnya yaitu Ayu, Lia, Ita, dan Putra memutuskan ikut tantangan menulis Puisi.

Sejak hari itu, dari mulai tanggal 1April 2021, aku mulai mengumpulkan hasil tulisan mereka setiap hari. Hampir setiap hari aku mengingatkan mereka untuk menulis, agar jangan sampai mereka lupa atau tidak menulis, besar harapan saya agar mereka mampu mengalahkan rasa tidak percaya diri mereka sehingga mampu menjadi pribadi yang percaya diri dan sanggup melalui tantangan ini dengan baik.

“Ayo, yang belum setor tulisannya hari ini ibu tunggu ya, ibu akan segera mengunggah tulisan kalian ke web-nya. Sekarang sudah hari ke-18, perjalanan kita menuju kesuksesan ada di depan mata, tetap semangat ya...” kalimat itulah yang setiap hari aku tuliskan di grup  WA untuk mengingatkan mereka agar segera menyetorkan hasil tulisan mereka.

Ketika aku mengunggah tulisan mereka di web, aku baru sadar ada satu orang yang belum mengumpulkan tulisannya, ya...Ayu...belum mengirimkan tugasnya hari ini. Aku segera menghubunginya lewat jalur pribadi.

“Ayu...hari ini Ayu belum setor puisi ke ibu ya?” tanyaku.

Lama aku tidak mendapatkan balasan dari Ayu. Aku telepon pun tidak diangkat-angkat.  Sesungguhnya aku merasa heran, Ayu tak biasanya seperti ini.

Tring...tring...bunyi pesan di handphoneku berbunyi. Kulihat waktu menunjukan pukul 22.30 WIB, aku  yang tadi sudah tertidur, segera membuka pesan takut ada pesan penting yang masuk. Ketika kulihat ternyata itu pesan dari Ayu.

“Ibu, maaf mengganggu malam-malam. Ini Ayu. Ayu sakit gak bisa bangun, kepala Ayu terasa berat, mual sama demam juga, dari kemarin malam Ayu gak bisa bangun dari tempat  tidur. Jadi pesan ibu baru bisa Ayu baca sekarang. Ayu mau setor puisi Bu. Masih bisakah kalau Ayu setor sekarang?” jelas Ayu kepadaku.

“Owh iya, Ayu..Boleh kok kalau Ayu mau setor puisi sekarang, gak apa-apa. Ayu jangan terlalu cape ya, istirahat saja, biar Ayu cepat sembuh. Semangat sehat ya Yu...”balasku.

Akhirnya batas akhir waktu pengumpulan tulisan untuk Tantangan Literasi pun tibalah, dan aku pun dapat mengumpulkan semua tugas dari lima peserta tantangan tepat pada waktunya, yakni tanggal 20 April 2021, termasuk Ayu pun  bisa mengikuti tantangan sampai selesai. Ah lega rasanya... tantangan literasi ini dapat terlewati walau banyak rintangan menghadang, dari mulai ada peserta yang sakit, kuota peserta habis jadi tidak bisa kirim lewat WA, sehingga aku sarankan tulis tangan dan kirim ke rumah, jaringan tidak stabil pas unggah ke web, laptop aku yang jebol hardisknya, sampai para peserta yang mengeluhkan buntu gak ada ide menulis, pokoknya suka duka mereka curhatkan padaku.

Waktu yang dinantikan pun tiba, pengumuman untuk para peserta yang Lolos Tantangan Literasi pun diumumkan. Ketika aku membaca hasilnya perasaan bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. Ternyata dari 5 orang peserta dari sekolahku, 4 orang Lolos, dan 1 orang tidak Lolos. Dan yang tidak Lolos adalah AYU.

Ya Tuhan...apa yang harus aku sampaikan kepada Ayu? Ayulah yang membantuku dari sejak awal tantangan ini bergulir. Tak tega rasanya aku memberitahukannya bahwa dialah satu-satunya yang tidak lolos tantangan. Namun, kabar ini suka tidak suka harus aku sampaikan kepada Ayu.

“Assalamualaikum Ayu...ada kabar yang ingin ibu sampaikan kepada Ayu.” Aku memulai obrolan di chat pribadi dengan Ayu.

“Oh iya, ada Apa Bu?” tanya Ayu penasaran.

“Hasil pengumuman Lolos tantangan sudah ada, Yu.” Jawabku.

“Wah, sudah ada Bu? Ayu Lolos gak Bu?” tanya Ayu semakin antusias.

“Kabar yang ingin ibu sampaikan adalah...mohon maaf ya Ayu, Ayu ternyata dinyatakan Tidak Lolos, Ayu jangan sedih ya...” hiburku.

“Yang lain gimana Bu? Apa hanya Ayu saja yang tidak lolos?” tanya Ayu lagi.

“Yang lain Lolos Yu...”jawabku.

“Oh...alhamdulillah...syukurlah kalau yang lain lolos.” Jawab Ayu.

Aku tahu betapa sedih dan kecewanya Ayu pada saat itu. Namun dia berusaha untuk tidak memperlihatkannya kepadaku.

“Dewan juri sangat jeli dan selektif ketika memberikan penilaian, ada 6 kriteria penilaiannya Yu. Diataranya jumlah halaman ada 20 halaman, puisinya diunggah di web, naskahnya harus asli buatan sendiri, para peserta tidak boleh meniru puisi orang lain, naskahnya harus sesuai dengan tema yang sudah ditentukan, struktur bahasanya harus tepat, dan teknik penulisannya harus benar.”

“Ayu dari keenam kriteria penilaian itu, lolos lima penilaian, tapi ada 1 kriteria yang Ayu tidak lolos. Menurut Ayu, kriteria mana yang Ayu tidak lolos.” tanyaku kepada Ayu.

“Ayu tidak tahu, Bu.” jawab Ayu singkat.

“Ayu tidak lolos karena ada naskah atau puisi Ayu yang dinilai oleh juri tidak asli. Mungkin ada salah satu  puisi Ayu yang oleh juri ditemukan sama dengan karya orang lain yang sudah di unggah di google sebelumnya. Kan ibu sudah ingatkan berkali-kali tidak boleh meniru karya orang lain, naskahnya harus asli buatan sendiri. Pahamkan maksud ibu?” jelasku memberikan pengertian kepada Ayu.

“Iya,Bu. Ayu paham. Maafkan Ayu...”

“Ini pelajaran dan pengalaman berharga buat kita, betapa pentingnya menghargai karya orang lain. Namun, jangan sampai kejadian ini membuat Ayu jadi putus asa ya...Ayu harus tetap semangat.” Aku berusaha menghiburnya.

“Iya, Bu.” jawab Ayu.

****

Sekolah kami pun bermaksud untuk mengadakan acara penyerahan medali dan piagam penghargaan  bagi peserta tantangan literasi. Seperti biasa aku pun mengumumkannya di grup WA agar semua peserta tantangan datang ke sekolah. Semua antusias menjawab siap datang, namun tidak dengan Ayu. Dia tidak merespon apapun di grup.

Seperti biasa aku menge-chat langsung ke Ayu, mengundang agar Ayu bersedia hadir untuk penyerahan piagam penghargaan sebagai peserta tantangan.

“Ayu, besok datang untuk menerima piagam penghargaan ya...” pintaku pada Ayu. Bagaimanapun Ayulah siswaku yang paling semangat berliterasi dan selalu siap bila aku meminta bantuan setiap ada kegiatan di sekolah. Aku tidak ingin semangatnya mengendur setelah dia tidak lolos tantangan.

“Tapi Bu, Ayu malu...yang lain pasti dikalungi medali sedangkan Ayu tidak...” jawab Ayu.

“Pihak Sekolah, khususnya ibu tidak akan membeda-bedakan mana yang lolos mana yang tidak, bagi kami kalian adalah juaranya. Juara dalam menaklukan rasa malas, rasa tidak percaya diri, dan belajar untuk menghargai waktu, dan mau mengakui kekhilafan adalah hal yang luar biasa, asalkan kita tidak melakukan kesalahan yang sama di masa depan. Ibu percaya Ayu pasti  mampu menghasilkan karya-karya yang luar biasa ke depannya Ibu percaya Ayu belajar banyak dari kegiatan tantangan literasi ini. Kita sudah sama-sama melewati tantangan ini, jadi ibu tunggu besok di sekolah ya, medali khusus untuk Ayu sudah ibu siapkan, asalkan Ayu tetap semangat berliterasi...”

Akhirnya Ayu pun bersedia hadir pada acara penyerahan medali dan piagam penghargaan di sekolah. Meskipun dalam surat keputusan dari juri dan panitia tantangan literasi sekolah kami hanya memperoleh empat medali untuk peserta yang lolos tantangan, namun bagi kami guru-gurunya semua peserta tantangan adalah juaranya. Nampak wajah Ayu kembali tersenyum, dan semangat baru kembali terpancar pada aura wajahnya. Sebagai manusia kita memang tidak luput dari khilaf, namun kita harus belajar untuk bisa memperbaiki diri agar tidak melakukan kesalahan yang sama di masa yang akan datang. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, kegagalan adalah cambuk agar kita bisa lebih baik lagi di masa depan, secercah harap harus tetap kita tanamkan baik pada diri sendiri, maupun pada orang lain, karena kesempatan lain menunggu di depan mata. Semoga keberhasilan segera menghampiri kita.

*ysm*

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 20 Oktober 2021

SEGITIGA RESTITUSI UPAYA TUMBUHKAN MOTIVASI INTERNAL PADA MURID

 

Oleh : Yusi Sri Mulyani, S.Pd.

CGP Angkatan 3

SMPN 1 Pabuaran Kabupaten Subang

 

Program Pendidikan Guru Penggerak merupakan program pendidikan kepemimpinan bagi guru  untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Program ini meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan pendampingan selama 9 bulan bagi calon guru penggerak.

Selama dua bulan terakhir mengikuti pendidikan guru penggerak angkatan 3 ini, calon guru  penggerak khususnya dari Kabupaten Subang sudah mempelajari modul 1. Dalam Modul 1 juga terdiari atas 4 materi, yakni modul 1.1 mengenai Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, modul 1.2 mengenai Nilai dan Peran Guru Penggerak, modul 1.3 mengenai Visi Guru Penggerak, dan modul 1.4 mengenai Budaya Positif.

Pada modul 1.1 mengenai Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, calon guru penggerak mempelajari mengenai tujuan pendidikan menurut  Ki Hadjar Dewantara adalah menuntun segala kodrat pada anak untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Intinya adalah biarkan anak-anak hidup sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu, atau yang dikenal dengan konsep merdeka belajar. Merdeka menurut pemikiran Ki Hadjar Dewantara di kutip dalam modul 1.4 (Ki Hadjar Dewantara, pemikiran, konsepi, keteladanan, sikap merdeka, cetakan kelima, 2013, halaman 469),  merdeka berarti tidak hanya terlepas dari perintah, akan tetapi juga cakap buat memerintah diri sendiri. Berangkat dari pemikiran tersebut berarti  apabila murid melakukan suatu kesalahan mereka dapat memperbaiki dirinya sendiri.

Untuk modul 1.2, calon guru penggerak dibekali dengan  pengetahuan tentang nilai dan peran guru penggerak. Adapun nilai-nilai yang harus dikuasai oleh seorang guru penggerak adalah nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Selain nilai-nilai, CGP juga harus paham betul mengenai lima peran guru penggerak, yakni menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antarguru, dan mewujudkan kepemimpinan murid. Sebagai seorang pendidik yang paham mengenai konsep merdeka belajar dan menjadi pemimpin pembelajaran, tentunya dapat menuntun murid untuk menemukan minat dan bakatnya melalui pendekatan yang membuat murid merasa nyaman ketika mereka berada di sekitar kita. Untuk mewujudkan kepemimpinan pada murid juga membutuhkan situasi belajar dalam lingkungan yang positif.  Untuk mewujudkan lingkungan positif tersebut tentunya dibutuhkan kerjasama atau kolaborasi semua elemen sekolah. Dengan adanya dukungan dari semua elemen sekolah, lingkungan positif bahkan budaya positif akan terbentuk dengan sendirinya.

Modul selanjutnya adalah modul 1.3, yang mempelajari mengenai visi guru penggerak. Seorang guru penggerak merupakan agen perubahan dalam dunia pendidikan, tentunya harus memiliki visi untuk dapat melakukan sebuah perubahan. Dalam hal ini, visi yang dikembangkan oleh saya sebagai calon guru penggerak adalah menumbuhkan pendidikan karakter yang berpihak pada murid melalui guru dan sekolah untuk mewujudkan profil pelajar pancasila. Sangat penting memadukan kekuatan internal dan kekuatan eksternal untuk mewujudkan visi, sebagai salah satu strategi perubahan itu adalah dengan menggunakan metode inkuiri apresiatif melalui tahapan BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi). Karena visi saya untuk menumbuhkan pendidikan karakter pada murid, maka erat kaitannya dengan disiplin positif. Sebagai seoang pendidik tentunya dapat menanamkan motivasi intrinsik/internal pada murid berlandaskan nilai-nilai kebajikan agar menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka percaya dan mereka hargai.

Dan pada modul 1.4, para calon guru penggerak diperkenalkan dengan budaya positif. Budaya Positif adalah Kebiasaan yang disepakati bersama untuk dijalankan dalam waktu yang lama. Jika kebiasaan ini sudah membudaya maka nilai-nilai karakter yang diharapkan akan terbentuk pada diri anak. Untuk itu seorang pendidik harus paham mengenai disiplin positif, posisi kontrol, keyakinan kelas,  kebutuhan dasar murid, dan penerapan segitiga restitusi.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa disiplin positif berkaitan erat dengan motivasi internal. Murid belajar untuk menghargai diri sendiri dan menjadi insan yang sesuai dengan harapan kita. Karakter anak diharapkan dapat terbentuk melalui tahapan sebagai berikut, awalnya murid-murid menuliskan kelas impian yang mereka harapkan. Murid dapat mewujudkan kelas impiannya dengan membuat kesepakan kelas. Kesepakan kelas/peraturan kelas dapat berkembang menjadi keyakinan kelas. Murid mulai memahami nilai keyakinan atau nilai-nilai kebajikan seperti bertanggung jawab, saling menghormati, saling menyayangi, disiplin, saling menghargai, semangat belajar, menjaga kebersihan, peduli terhadap teman, dan lain sebagainya. Setelah murid mulai memahami dan menerapkan keyakinan kelas, maka lingkungan positif akan terbentuk, apabila lingkungan positif terbentuk, maka budaya positif pun dengan sendirinya akan terwujud. Karena pada dasarnya keyakinan kelas dibuat atas kesepakatan bersama untuk membentuk kebiasaan yang diharapkan dapat membudaya sehingga nilai-nilai karakter akan terbentuk pada diri anak.

Bagi kita sebagai seorang pendidik pun, kita harus  memahami 5 posisi kontrol yang mana yang dapat diterapkan pada murid. Lima posisi kontrol itu yakni sebagi penghukum, pembuat orang merasa bersalah, teman, pemantau, dan manajer. Untuk posisi kontrol sebagai penghukum dan pembuat orang merasa bersalah, motivasinya adalah motivasi eksternal, dan berdampak pada murid akan mengulangi kesalahan dan merasa rendah diri, sehingga identitas pada murid gagal terbentuk.  Pada posisi kontrol sebagai teman dan pemantau itu pun adalah motivasi dari luar atau motivasi eksternal, identitas murid dapat berhasil, namun membuat murid mengharapkan imbalan dari tindakannya, bahkan cenderung membuat murid ketergantungan pada orang lain. Sedangkan untuk posisi kontrol sebagai manajer motivasi nya berasal dari diri anak itu  sendiri, murid bisa belajar menghargai dirinya sendiri, sehingga identitas murid dapat berhasil dan sukses terbentuk. Sisi positif lainnya yang  berdampak murid adalah mereka dapat mengevaluasi dan memperbaiki dirinya sendiri.Jadi, sebagai seorang pendidik, kita  harus dapat menerapkan posisi kontrol sebagai manajer dengan mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya dan menemukan solusi sendiri

Seorang pendidik  juga harus mampu memahami 5 kebutuhan dasar pada murid, yakni bertahan hidup,, cinta dan kasih sayang, penguasaan, kebebasan, dan kesenamgan. Apabila kebutuhan dasarnya terpenuhi diharapkan murid tidak akan melakukan pelanggaran atau kesalahan. Namun sebaliknya, jika kebutuhan dasar murid gagal terpenuhi maka murid cenderung melakukan pelanggaran/kesalahan.

Dalam mengatasi murid yang bermasalah, maka guru harus melakukan restitusi. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa tumbuh menjadi karakter yang lebih kuat. Proses ini meliputi tiga tahap atau dikenal dengan segitiga restitusi, yaitu menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, dan menanyakan keyakinan. Dengan tahapan segitiga restitusi ini, murid diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri melalui motivasi internal. Sehingga segitiga restitusi ini adalah salah satu upaya untuk menumbuhkan motivasi internal pada murid. Pada tahapan ini murid tidak merasa dihakimi, tidak dipersalahan, dan akan menyadari kesalahannya dan bersedia memperbaiki kesalahannya berdasarkan kesadarannnya sendiri. *ysm*



Rabu, 30 Desember 2020

Yusi Sri Mulyani: BERCUMBU DENGAN E-RAPOR

Yusi Sri Mulyani: BERCUMBU DENGAN E-RAPOR:   Hampir semua jenjang Pendidikan baik di SD, SMP, dan SMA/SMK sederajat di Kabupaten Subang sudah melaksanakan PAS ( Penilaian Akhir Seme...

BERCUMBU DENGAN E-RAPOR

 




Hampir semua jenjang Pendidikan baik di SD, SMP, dan SMA/SMK sederajat di Kabupaten Subang sudah melaksanakan PAS ( Penilaian Akhir Semester) yang dimulai pada tanggal 30 November 2020 sampai dengan 5 Desember 2020.  Setelah selesai melaksanakan PAS, sudah menjadi kewajiban bagi pendidik, jika proses pembelajaran selama satu semester berakhir,  maka para pendidik harus bersiap untuk bercumbu dengan e-Rapor.

Sebelum menggunakan e-Rapor khususnya di jenjang SMP, dulu  rapor  ditulis  tangan oleh para walikelas,   kemudian beralih ke aplikasi rapor K13 format excel, dan sejak November 2017 Direktorat Pembinaan SMP telah merilis aplikasi e-Rapor SMP Versi 1.1. Dalam perkembangannya  telah dilakukan beberapa kali pembaruan, hingga pada bulan November 2020, dirilis kembali aplikasi e-Rapor SMP versi 2.2.

Aplikasi e-Rapor SMP versi 2.2 ini, berdasarkan keterangan dari Dapodik.co.id telah megakomodir Kebijakan Merdeka Belajar dan kondisi Pademi Covid-19, antara lain memfasilitasi sekolah yang melaksanakan pembelajaran dan penilaian berdasarkan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) Pelajaran pada Kurikulum 2013 secara utuh (sesuai Permendikbud RI Nomor: 37 tahun 2018), berdasarkan KI dan KD Pelajaran pada Kurikulum 2013 untuk kondisi khusus (sesuai Kepmendikbud RI Nomor: 719/2020 dan  Keputusan Kepala Balitbang dan Perbukuan Nomor: 018/H/KR/2020), dan berdasarkan penyederhanaan kurikulum secara mandiri oleh Satuan pendidikan (sesuai Kepmendikbud RI Nomor: 719/P/2020).

Aplikasi e-Rapor SMP sebagai salah satu instrument akuntabilitas penilaian oleh pendidik diharapkan dapat membantu dan mempermudah tugas pendidik dalam merencanakan penilaian, mengolah dan menganalisis hasil penilaian, mencetak rapor, serta melaporkan hasil penilaian peserta didik kepada orang tua/wali murid, hingga disinkronisasi ke Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

“Sebenarnya memasukan nilai ke e-rapor itu gampang, tidak sesulit yang dibayangkan. Jika para guru sudah memiliki perencanaan penilaian yang matang, apalagi jika didukung oleh jaringan internet yang kuat, maka proses memasukan nilai ke e-Rapor akan mudah, dan para pendidik juga harus benar-benar memahami langkah-langkah pengisian e-Rapor,” tutur Uul Khusnul Khotimah, S.Pd, operator dapodik di SMPN 1 Pabuaran.

Adapun langkah-langkah memasukan nilai ke  e-Rapor adalah sebagai berikut, pertama mengecek Kompetensi dasar yang digunakan, disitu ada beberapa pilihan, diantaranya ada kurikulum nasional, penyederhanaan balitbang, dan penyederhanaan mandiri. Pilihlah kurikulum yang sesuai dengan kondisi sekolah. Kedua memilih Kompetensi Dasar yang sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Ketiga memilih perencanaan penilaian pengetahuan, keterampilan, sosial, spiritual, dan bobot PTS dan PAS/PAT.

a)         Perencanaan penilaian pengetahuan terdiri atas tes lisan, tulis, dan penugasan.

b)         Perencanaan penilaian keterampilan terdiri atas praktik, projek, dan produk.

c)         Perencanaan penilaian sosial  terdiri atas 6 penilaian, yakni jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, percaya diri, dan peduli.

d)        Perencanaan penilaian spiritual terdiri atas  9 penilaian, yakni berdoa, menjalankan ibadah, memberi salam, bersyukur atas nikmat dan karunia Tuhan, mensyukuri kemampuan manusia dalam mengendalikan diri, bersyukur ketika berhasil mengerjakan sesuatu, berserah diri (tawakal), memelihara hubungan baik sesama umat, bersyukur sebagai bangsa Indonesia, dan menghormati orang lain yang menjalankan ibadah.

e)         Perencanaan bobot PTS dan PAS/PAT disesuaikan dengan kondisi sekolah.

Langkah keempat Download-lah impor nilai untuk memasukan jenis penilaian dalam format excel. Kelima setiap guru mata pelajaran tinggal memasukan nilai yang sudah jadi ke dalam format download-an. Keenam  mengimpor nilai siswa, dari mulai nilai pengetahuan, keterampilan, sosial, spiritual, dan PTS dan PAS/PAT. Ketujuh  kirimkan nilai akhir ke setiap kelas yang  diampu. Kedelapan  mengirimkan proses deskripsi nilai siswa. Lihat deskripsi siswanya dari setiap kelas yang kita ajar kemudian simpan. Maka tugas guru mata pelajaran pun selesai mengimpor nilai rapor ke tiap wali kelas.

            Untuk pendidik yang mempunyai tugas tambahan sebagai walikelas, ada tahapan yang harus dilakukan. Pertama  masuk ke akses walikelas dan lihat mata pelajaran apa saja yang sudah mengimpor ke kelas kita, pastikan semua guru mata pelajaran sudah mengirimkan nilai akhirnya. Kedua input data dan nilai kehadiran, ekstrakurikuler, dan sikap. Ketiga simpan proses deskripsi siswa. Keempat lihat leger kelas dan bisa langsung cetak leger. Kelima cetak rapor dan menerapkan ukuran kertas. Keenam download rapor semua peserta didik yang ada di kelas kita. Ketujuh cetak rapor yang sudah di download.

            Menurut guru SMPN 1 Pabuaran Subang yang sudah menggunakan aplikasi e-Rapor sejak tahun 2019, penggunaan e-Rapor memiliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangannya  adalah sinyal dan sistem jaringan yang harus selalu terpusat pada satu server, sehingga jika ada gangguan koneksi internet maka akan memakan waktu yang cukup lama. Selain itu, pengisian perencanaan nilai harus betul-betul teliti, jika ada kekeliruan harus siap mengawali lagi perencanaan dari awal. Adapun kelebihannya adalah memudahkan guru dalam mengolah nilai, mengimpor nilai, dan mencetak rapor, serta mendorong pendidik untuk bisa menggunakan IT.

            “E-Rapor merupakan proses pembelajaran kepada guru untuk selalu menelaah KI dan KD  dan merencanakan penilaian yang sesuai dengan KD pada awal tahun pelajaran. Selain itu, data nilai peserta didik dapat tersimpan dengan aman, serta dapat mempererat tali silaturahmi karena bisa berkumpul dan bercanda dengan sesama guru pada saat download maupun impor rapor, tentunya  dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, ” jelas Feti Handayani Wakasek bidang kurikulum di SMPN 1 Pabuaran.

            Biasanya jika kita dihadapkan pada sesuatu yang baru, awalnya memang kita selalu membayangkan hal-hal yang sulit, banyak ketakutan-ketakutan yang muncul. Takut salah menentukan KD, takut nilai yang muncul tidak sesuai, takut prosesnya berbelit dan lama, takut jaringan internetnya tidak stabil, takut salah klik nanti nilainya hilang semua, dan masih banyak ketakutan lain yang sebenarnya tidak beralasan, karena kita belum mencobanya. Namun, setelah menggunakan e-Rapor ketakutan itu sirna.

            Di era serba digital ini, semua orang dituntut untuk bisa menggunakan gawai, termasuk guru tentunya. Guru sebagai motor penggerak pendidikan harus mampu mengoperasikan gawai baik untuk proses pembelajaran maupun untuk pengolahan nilai seperti e-Rapor. Sebagai guru jangan merasa terbebani dengan perubahan baru, merasa tidak mampu/tidak percaya diri, atau anti perubahan, sebaliknya kita harus siap dan tampil terdepan dalam menghadapi sesuatu hal yang baru, dan jangan selalu ingin berada di zona nyaman.

Bagi sekolah yang belum menggunakan e-Rapor, khususnya di Kabupaten Subang,  ada baiknya dicoba saja dulu, setiap aplikasi yang ditawarkan oleh pemerintah pasti bertujuan untuk lebih memudahkan pekerjaan kita sebagai tenaga pendidik, terlepas dari kekurangan dan kelebihannya. Proses pengisian e-Rapor saat ini masih terus berlangsung, dan tenaga pendidik sedang asyik bercumbu dengan e-Rapor untuk nanti siap dibagikan kepada orang tua/wali murid pada tanggal 18 Desember 2020 sebagai laporan hasil penilaian peserta didik selama semester ganjil ini.


 

Penulis bernama Yusi Sri Mulyani,S.Pd.  Guru Bahasa Indonesia di SMPN 1 Pabuaran Subang dan anggota Komunitas Lisangbihwa

Rabu, 26 Agustus 2020

PERINGATI HUT KE-75 REPUBLIK INDONESIA, WARGA KAMPUNG CAMARA PABUARAN SUBANG GELAR BERBAGAI KEGIATAN SERU

 


Peringatan HUT ke-75 Republik Indonesia memang selalu digelar dan dirayakan setiap tahunnya oleh seluruh masyarakat Indonesia, tak terkecuali  warga Kampung Camara RT.12 RW.03 Desa Pabuaran, Kecamatan Pabuaran Kabupaten Subang pun ikut memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dengan menggelar berbagai macam kegiatan yang keren dan seru. Beruntung daerah ini termasuk zona hijau sehingga kegiatan pun dapat tetap dilaksanakan dengan lancar.

Banyak cara untuk mengisi kemerdekaan saat ini, diantaranya tetap menjalin tali silaturahmi, mempererat persaudaraan, dan menjalin persatuan dan kesatuan antarseluruh bangsa Indonesia. Demi terwujudnya rasa persatuan tersebut, warga Camara tergerak untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan positif yang dapat menumbuhkan rasa kebersamaan khususnya antarwarga Kampung Camara.

Kegiatan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan ini diprakarsai oleh para pemuda Kampung Camara sendiri. Mereka tergabung dalam IRECA (Ikatan Remaja Camara). Mereka berinisiatif untuk menggalang dana secara swadaya dan mewujudkannya dalam berbagai kegiatan seperti menggelar berbagai macam perlombaan.




     Adapun perlombaan yang digelar pada Hari Senin, tanggal 17 Agustus 2020 diataranya adalah balap karung, makan kerupuk, balap kelereng, mengambil uang di buah papaya, memasukan paku ke dalam botol, memasukan air ke dalam botol, joged kursi, estapet sedotan karet, estapet terigu dan panjat pinang. Semua lomba diikuti oleh berbagai kategori, yakni kategori anak, remaja, dan juga dewasa, baik laki-laki maupun perempuan, kecuali panjat pinang peserta perempuan tidak diikutsertakan.



Semua perlombaan dapat diikuti oleh warga Kampung Camara dengan penuh kebersamaan dan keceriaan. Kebahagiaan jelas terpancar pada wajah-wajah peserta lomba dan juga para penonton. Mereka dapat tertawa lepas bersama dan kegiatan ini juga dapat dijadikan sarana hiburan gratis sebagai pelepas penat.

Sebagai hiburan, pada malam harinya digelar nonton layar tancap dengan memutar film perjuangan. Hal ini juga bertujuan agar generasi muda saat ini mengetahui perjuangan dan pengorbanan para pahlawan pada saat merebut kemerdekaan. Kemerdekaan yang saat ini kita rasakan adalah hasil dari pengorbanan rakyat Indonesia dengan kerja keras, pikiran, tetesaan keringat, materi, bahkan nyawapun rela mereka korbankan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Harapan kami, generasi muda setelah mengikuti rangkaian acara peringaatan Hari kemerdekaan dan menonton film perjuangan, mereka  dapat mencontoh keteladanan para pejuang dengan cara mengisi kemerdekaan ini dengan berbagai macam kegiatan positif dan menjauhi segala hal yang negatif.






Pada Hari Sabtu, tanggal 22 Agustus 2020, warga Kampung Camara menggelar kegiatan mopole atau tangkap ikan bersama. Hal ini dipelopori oleh Abah Agus sebagai penanggung jawab kegiatan. Diawali oleh ibu-ibu yang menggunakan kostum daster lengkap dengan karung turun ke empang untuk mengambil ikan. Setelah itu, dilanjutkan oleh anak-anak dan bapak-bapak secara serentak turun ke empang. Walaupun ada sedikit masalah akibat ada korban “patil patin” yang dialami Ade Debleng, namun hal ini dapat segera diatasi dan kegiatan mopole pun dapat berjalan dengan sukses.





Malam harinya, warga Kampung Camara kembali membuat gebrakan dengan menyelenggarakan makan nasi liwet akbar di jalanan. Nasi liwet disimpan di atas daun pisang yang berjajar sepanjang kurang lebih 30 meter pun digelar. Seluruh warga Kampung Camara menikmati makan nasi liwet dengan menu ikan sepat, teri, lengkap dengan lalab dan sambel hasil dari olahan Ma Asih Sang koki handal kebanggaan warga Camara.



“Warga Kampung Camara mengadakan makan bersama di jalan dalam rangka, yang pertama mengenang Hari  Kemerdekaan Republik Indonesia agar tetap bersatu, kedua merayakan tahun baru Islam, semoga warga Camara tetap  kompak, tetap sehat, mendapat berkah dari Allah, dan tetap dilindungi oleh Allah SWT, ujar Engkur Kurniadi salah satu warga Camara yang hadir dalam acara makan nasi liwet bersama.

Rendi salah satu pemuda yang juga terlibat sebagai panitia acara mengatakan bahwa acara ini digelar untuk memeriahkan HUT RI,  warga Camara  RT.12/03 sedang melaksanakan makan akbar dengan cara makan liwet bersama. “Acara ini juga untuk menjalin kebersamaan dan persatuan antarwarga Camara,”papar Aldi menambahkan penjelasan rekannya. Selesai makan nasi liwet, kegiatan pada malam itu ditutup  dengan acara hiburan yaitu karaoke dan joged bersama di bawah pimpinan Lilis Alvina dan Ibu Ros Rosita.

Pada Hari Minggu pagi, ibu-ibu warga Camara yang memang rutin mengadakan senam bersama setiap minggunya menggelar senam dengan cara yang unik, yaitu senam dengan menggunakan pakaian senam dengan dilapisi baju daster, tentu saja hal ini menarik dan mengundang perhatian banyak orang.




Pada sore harinya kegiatan dilanjutkan dengan pertandingan sepak bola antar ibu-ibu. Pembagian pemain dengan cara diundi, semuanya terdiri atas empat club, masing-masing club terdiri atas enam orang. Permainan ini berlangsung selama dua hari berturut-turut. Kalah menang dalam permainan adalah hal yang biasa, namun menang bukanlah tujuan utama dari pertandingan ini, bisa berkumpul bersama dan tertawa lepas merupakan hiburan tersendiri buat warga Camara. Baik yang menang ataupun yang kalah mendapatkan hadiah yang sama walaupun dikemas dalam dus yang berbeda. Prinsipnya yang menang dan yang kalah sama-sama bahagia.




Selesai pertandingan sepak bola ibu-ibu, dilanjutkan dengan sepak bola antaranak-anak, dan berakhir pada hari Selasa, tanggal 25 Agustus 2020 dan tim sepak bola yang memenangkan juara pertama adalah tim Kangguru,yaitu Yunus, Raja, Doni, Reza, Nabil, dan Rohim. Baik yang juara kesatu atau kedua masing-masing mendapatkan hadiah berupa bola sepak.

Warga Camara selalu menunjukkan kekompakan, kebersamaan, dan kesolidan sehingga apapun kegiatannnya dapat terselenggera dengan lancar dan sukses. Belum lagi untuk ke depannya yaitu acara 10 Muharam rencananya akan mengadakan makan bubur bersama. Semoga kebersamaan ini akan terus berlanjut ke depannnya dan kebahagiaan serta keceriaan tetap selalu menghiasi wajah-wajah warga Kampung Camara. *YSM*


Senin, 24 Agustus 2020

PELAKSANAAN KURBAN DI SMPN 1 PABUARAN SUBANG SEMAKIN TINGKATKAN KEKOMPAKAN WARGA NESPA



SMP Negeri 1 Pabuaran Subang memang penuh dengan berbagai kegiatan. Meskipun saat ini masih dalam masa pandemic covid-19, namun karena daerah ini termasuk zona hijau, sehingga tidak menyurutkan niat para guru, karyawan, dan juga para siswa untuk melaksanakan berbagai kegiatan, khususnya kegiatan rutin yang memang selalu dilaksanakan di SMPN 1 Pabuaran.

Seperti tahun-tahun sebelumnya pelakasanaan penyembelihan hewan kurban adalah kegitan rutin di SMPN 1 Pabuaran  setiap tahun pada saat Idul Adha. Sama dengan tahun-tahun sebelumnya untuk kegiatan kurban kali ini dapat dilaksanakan dengan lancar.  Adapun pelaksanaan penyembelihan hewan kurbannya dilaksanakan pada Hari Minggu, tanggal 2 Agustus 2020.

Sebelum pelaksanaan penyembelihan hewan kurban, para guru dan siswa melaksanakan kegiatan sholat Duha terlebih dahulu yang diawali dengan mengumandangkan takbir bersama-sama. Tentunya hal ini semakin membawa suasana khidmat dan diharapkan dapat menambah keimanan seluruh warga Nespa agar selalu dekat dengan Allah SWT.



Darsa,S.Pd. selaku Kepala SMPN 1 Pabuaran mengatakan bahwa beliau merasa bersyukur atas kekompakan para guru, karyawan, siswa, dan juga orangtua dan masyarakat sekitar yang sangat mendukung kegiatan kurban ini sehingga dapat terlaksana setiap tahunnya. Beliau juga mengatakan semoga kerjasama dan kekompakan ini terus berlanjut, dengan harapan besar agar seluruh warga Nespa senantiasa ada dalam lindungan Allah SWT, selalu sehat, dan selalu dimudahkan rejekinya.


Para guru dan siswa yang hadir dalam kegiatan ini merasa sangat antusias dan menyambut baik kegiatan ini. “Alhamdulillah untuk Kurban tahun ini dapat terlaksana dengan lancar, semoga tetap berlanjut setiap tahun seperti yang sudah-sudah, untuk tahun ini kurbannya adalah satu ekor sapi. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat Al Kautsar tentang perintah untuk berkurban sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ini merupakan ajang untuk meningkatkan ukhuwah warga nespa. Ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya untuk seluruh panitia terutama kepala sekolah, para guru, staf TU, pengurus OSIS dan Rohis SMPN 1 Pabuaran,” papar Wahidin, S.Ag. selaku guru agama di SMPN 1 Pabuaran.

Yang bertindak sebagai imam sholat duha sekaligus penyembelih hewan kurban adalah Ustad Ahmad Sholehudin, S.Pd.I. Beliau mengatakan bahwa kurban ini adalah simbol kebersamaan. Berharap ke depannya siswa Nespa dapat menjadi orang-orang yang bermanfaat. Semoga para guru dan siswa Nespa juga mempunyai kesabaran dan ketabahan seperti yang dicontohkan  Nabi Ibrahim  dan Nabi Ismail.

Sedangkan menurut Drs. Engkur Kurniadi selaku Wakasek Bidang Kesiswaan mengatakan bahwa daging kurban ini diperuntukan khususnya kepada para siswa yang yatim, piatu, dan yatim piatu. Dengan harapan semoga tidak ada sifat-sifat binatang pada diri siswa, sifat-sifat jelek semoga sirna sehingga mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang sholeh dan sholehah. Beliau juga berharap agar semua warga Nespa senantiasa ada dalam lindungan Allah SWT.

Bagi siswa yang tidak dapat hadir pada saat pelaksanaan penyembelihan hewan kurban, daging kurbannya langsung diantarkan ke rumah masing-masing siswa dengan bantuan dari pengurus OSIS SMPN 1 Pabuaran. Dan daging kurban pun dapat diserahkan kepada seluruh siswa yang memang berhak menerimanya.

Dengan kekompakan, kebersamaan, dan kerjasama yang solid seluruh warga Nespa, berbagai kegiatan di SMPN 1 Pabuaran dapat terlaksana dengan baik, lancar, dan sukses, termasuk kegiatan kurban tahun ini. *YSM*